Kisah dari “Grave of The Fireflies” (Review)


spoiler alert!


Cover : Click Here
Studio Ghibli telah dikenal dengan animasi-animasi yang tampak nyata dan sangat menyentuh hati disetiap ceritanya. Selalu terselip pesan yang mengetuk hati penontonnya. Film-film yang digarap oleh Studio Ghibli telah mendapat banyak pujian dari seluruh dunia.
Salah satu filmnya yang sukses besar membuat saya menangis dengan penuh emosional adalah “Grave of The Fireflies”. Arti dari judul tersebut adalah kuburan kunang-kunang. Animasi yang sangat sedih ini diproduksi pada tahun 1988. Mengisahkan seorang kakak laki-laki dan adik perempuan kecilnya yang berusaha betahan hidup selama perang dunia ke II saat Amerika menyerang Jepang.

Sepenggal Kisah
Film ini dibuka dengan seorang laki-laki yang terbaring tidak berdaya dengan tampang lusuh di pinggiran stasiun. Petugas stasiun kereta menghampirinya dan menemukan kaleng bekas permen buah. Para petugas banyak menemukan gelandangan yang meninggal di stasiun kereta tersebut. Kemudian kaleng bekas permen tersebut dilempar oleh petugas stasiun ke tanah lapang yang penuh rerumputan pada malam hari.
Saat kaleng permen tersebut mendarat di tanah, mulai bermunculan kunang-kunang dan ditengah-tengah padang rumput tersebut muncul seorang anak perempuan kecil yang lucu menggunakan kerudung merah ingin menghampiri gelandangan tersebut. Namun ditahan oleh seorang anak laki-laki remaja yang memakai seragam. Mereka merupakan pemeran utama dalam film ini yang bernama Seita untuk kakak laki-laki dan Setsuko adik perempuannya.
Kemudian kisah mereka dimulai dengan pesawat-pesawat tempur yang meluncur diatas udara siap untuk menembakkan rudalnya. Seita dan Setsuko serta ibunya bersiap-siap untuk mengungsi dari serangan udara yang siap menghancurkan rumahnya. Tidak lama kemudian, mulai hujan rudal yang tidak dapat dihindari memisahkan Seita dan Setsuko dengan ibunya. Mereka berdua kemudian pergi menyelamatkan diri mereka, hingga pada akhirnya Seita menemukan ibunya yang meninggal dunia akibat hujan rudal tersebut.
Kisah kakak adik yang bertahan hidup ini pun dimulai. Dikarenakan ibunya yang meninggal, Seita memutuskan untuk mengungsi ke rumah saudara jauhnya. Namun semakin lama iya tinggal disana, tantenya mulai memanfaatkan Seita seperti memintanya untuk menjual kain peninggalan ibunya untuk ditukar dengan beras putih. Seita merasa semakin muak karena selalu dimarahi oleh tantenya, oleh karena itu ia memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut.
Seita dan Setsuko menemukan tempat di tepi sungai seperti gua kecil dan memutuskan untuk tinggal disana. Mereka tampak bahagia tinggal disana dan melakukan kesehariannya dengan mandiri. Mereka masak dan makan dengan bahagia di tempat tinggal barunya. Namun lama kelamaan kesehatan Setsuko semakin menurun, punggungnya dipenuhi dengan luka iritasi, ia juga mengalami diare. Hal tersebut dikarenakan makanan yang tidak sehat dan lingkungan yang tidak bersih.
Karena keadaan Setsuko yang sakit, Seita akhirnya memutuskan untuk mencuri makanan dari rumah warga saat alarm untuk mengungsi dibunyikan. Kedua kakak beradik ini semakin kurus dan hidupnya tidak karuan. Hingga pada akhirnya, Seita menerima kabar bahwa ayahnya yang merupakan anggota tentara angkatan laut meninggal karena kapalnya yang karam. Serta dilanjutkan dengan kematian Setsuko yang karena keadaannya yang sudah tidak dapat diselamatkan.

Review
Cerita ini menurut saya sangat bagus karena menceritakan tentang betapa seorang kakak yang bertanggung jawab dan sangat sayang dengan adik kecilnya. Namun walaupun bertemakan kakak beradik, film animasi ini tidak cocok ditonton oleh anak dibawah umur karena ada beberapa adegan yang memperlihatkan betapa tragisnya korban dari bom rudal.
Film animasi ini benar-benar mengajarkan bagaimana seorang kakak yang rela melakukan apapun untuk menjaga adiknya. Dan betapa kerasnya kehidupan di masa Perang Dunia II berlangsung. Bagaimana beratnya seorang anak yang masih beranjak remaja bertahan hidup tanpa keluarga. Serta betapa mandirinya kakak beradik tersebut dalam menjalani hidup mereka.
Hal yang benar-benar membuat air mata saya mengalir adalah pada saat scene Setsuko yang meninggal tak berdaya di Kasur jeraminya. Kemudian sang kakak yang masih belum bisa menerima kematian adiknya, sehingga masih tidur bersamanya beberapa hari. Dibantu dengan alunan musik khas studio Ghibli yang menambah momen sedih pada adegan tersebut. Ditambah penggambaran animasi yang pemilihan warnanya dengan dominan pastel sehingga tampak menggambarkan suasana alam yang tenang.
Kalian harus menontonnya langsung agar dapat mengerti betapa musik, gambar, serta cerita yang begitu sempurna dan sangat menyentuh. Menurut saya Studio Ghibli selalu sukses dalam pembuatan film animasi dengan cerita unik dan menyentuh hati para penontonnya.





Komentar

Postingan Populer