Imlek Tahun Ini Tidak Sama



ilustrasi : klik disini


Perayaan imlek ditahun ini jatuh pada tanggal 16 Februari 2018. Sebagai wanita keturunan Tionghoa sedari kecil aku telah dikenalkan dengan perayaan imlek. Warna merah dimana-mana, lampion menghiasi sepanjang jalan, kue-kue yang terpajang dimeja tamu, dan yang paling aku senangi adalah baju baru.

Setiap tahun, keluargaku selalu merayakan imlek dengan meriah dan bersemangat. Malam sebelum imlek terdapat tradisi makan besar bersama keluarga. Acara ini juga yang selalu aku tunggu-tunggu disaat perayaan imlek, karena mama dan pho-pho (nenek) selalu memasak makanan yang super lezat.
Tidak hanya makanan lezat, namun yang aku tunggu-tunggu juga adalah saat keluargaku yang lainnya datang dan makan besar bersama. Saat itu rumah terasa ramai dan sangat bahagia oleh canda tawa anggota keluarga. Tradisi dikeluargaku juga membagikan angpao kepada anak-anak kecil dimalam makan besar tersebut.

Dihari pertama juga banyak keluarga yang mengunjungi rumahku dan bercengkrama dengan bahagia. Kami juga mengunjungi ke rumah keluargaku yang lain juga. Kalian tahu kan kalau ke rumah kelaurga apa yang diberikan. Iya betul sekali, angpao-angpao yang selalu  didapatkan setiap ada yang berkunjung maupun saat berkunjung. Itulah enaknya bagi kami yang masih belum menikah.

Perasaan menyenangkan ini terakhir kali aku rasakan ditahun 2015. Bukan karena apa-apa, namun ditahun 2015 aku memulai perkuliahan tahun pertamaku yang jauh dari rumah dan bahkan berbeda pulau. Pastinya kalian berpikir, kan bisa pulang waktu liburan imlek. Sayangnya di universitasku, kami hanya diberi libur tidak sampai 1 minggu. Untuk menempuh ke kampung halamanku , butuh transit yang memakan waktu dan belum lagi terkendala biaya tiket yang harganya meningkat drastis saat minggu imlek.

Dikarenakan alasan tersebut, aku telah merayakan imlek selama 2 tahun di Jakarta. Tentu karena aku memiliki keluarga di Jakarta, jadi aku tidak merasa sendiri ataupun sepi saat perayaan imlek. Aku menunjungi rumah keluargaku dan memutuskan untuk tinggal disana selama dua hari satu malam. Sehari sebelum imlek, tepatnya sore hari aku tiba dirumah keluarga. Tidak lupa aku menggunakan pakaian merah yang identik dengan ornament imlek. Lampu-lampu berwarna merah juga menghiasi rumah. Karena keluargaku yang di Jakarta menganut agama Khonghucu, mereka memampang patung-patung dewa diatas meja, dan menghiasi meja tersebut dengan berbagai macam buah.

Seperti tradisi turun temurun, kami makan bersama saat malam sehari sebelum imlek. Dan paginya keluarga-keluargaku yang di Jakarta datang berkumpul dan berbincang. Terlihat sama saja, makan besar, kue-kue yang dipajang, baju baru, angpao, dan kumpul keluarga. Namun kalian pasti tahu, perasaan nyaman dan hangat bila kita merayakannya dengan orangtua sendiri. Saat hari pertama imlek setelah bertemu keluarga-keluargaku, kuputuskan untuk pulang ke tempat kosku.

Itulah yang kurasakan selama 2 tahun merayakan imlek di Jakarta. Perasaan meriah dan bahagia yang kurasakan disini berbeda dengan apabila aku bersama dengan orangtuaku yang jauh disana. Walaupun perayaan imlek keluargaku di Jakarta lebih meriah, tetapi perasaan hangat itu tidak kudapatkan disana. Mau semeriah apapun perayaan imlek ini, aku tetap lebih memilih dan menanti untuk merayakannya dengan orangtuakau walaupun perayaannya lebih sederhana.

Sekarang aku paham betapa peran keluarga sangat penting dalam perayaan imlek ini. Angpao, baju baru, dan ornament tidak akan ada maknanya bila tidak merayakannya bersama keluarga tercinta.

Komentar

Postingan Populer