Rensensi Novel Hujan
Identitas Novel
Judul
: Hujan
Penulis
: Darwis Tere Liye
Penerbit
: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan
: Ke-24, Maret 2017
Tebal
: 320 halaman
Dimensi
: 13.5 cm x 20 cm
Harga
: Rp60.000,-
Sinopsis
Novel
Menurut
saya sinopsis novel Hujan ini cukup unik dan membuat orang yang melihat
sinopsisnya akan penasaran untuk mengetahui apa yang diceritakan dalam novel
tersebut.
Tentang
Hujan
Tentang
Cinta
Tentang
Melupakan
Tentang
Perpisahan
Tentang
Hujan
Inilah
sinopsis dari novel tersebut, hanya beberapa kata yang menggambarkan apa yang
ingin diceritakan.
Resensi
Novel Hujan
Novel
ini mengambil latar pada tahun 2050an dan menceritakan seorang gadis bernama
Lail yang menyukai hujan. Kenangan-kenangan yang dia miliki sebagian besar terjadi
saat hujan turun. Manis, pahit, menyenangkan, bahkan kenangan yang buruk pun
terjadi saat hujan turun. Hingga pada suatu hari, ia ingin melupakan tentang
hujan.
Lail
berusaha untuk menghapus seluruh kenangan-kenangannya dengan sebuah alat
canggih yang ada di zaman tersebut. Syarat agar alat tersebut bisa bekerja
adalah dengan menceritakan kenangan-kenganan selama hidupnya tanpa ada satu pun
yang ditutup-tutupi.
Lail
kemudian bercerita dimulai dari masa kecilnya. Saat itu berawal dari Lail yang
masih remaja berumur 13 tahun mengenakan seragam sekolah bergandengan tangan
dengan ibunya menuju stasiun bawah tanah. Hari itu merupakan hari pertama ia masuk
sekolah dan waktu menunjukan bahwa mereka terlambat. Bersama ibutnya, ia tidak
henti-hentinya menyuruh untuk bergegas supaya tidak ketinggalan kereta. Saat Lail
dan Ibunya sedang dalam perjalanan di kereta bawah tanah, terdengar suara
gemuruh dan beberapa detik kemudian disusul oleh gempa bumi yang sangat luar
biasa.
Gempa bumi yang lebih dasyat dibanding meletusnya gunung Krakatau ribuan
tahun lalu. Gunung berapi yang meletus tersebut mengakibatkan gempa 10 skala
richter yang menghancurkan dua benua. Pada kejadian ini, Lail kehilangan kedua
orangtuanya. Ibunya tertimbun bersama dengan penumpang lainnya sedangkan
ayahnya diterjang tsunami di pulau tempat ayahnya bekerja. Beruntung Lail
selamat karena ditolong oleh seorang anak laki-laki yang memegang tangannya
saat akan jatuh ke lorong kereta. Anak laki-laki tersebut bernama Esok.
Lail
pun menjadi seorang anak yatim piatu. Setelah kejadian bencana tersebut, Lail
tinggal di tempat pengungsian yang dibuat oleh pemerintah kota. Di tempat
pengungsian ini, Lail selalu bersama dengan Esok hingga kota kembali normal. Pemerintah
memutuskan untuk anak-anak yatim piatu ditampung di panti asuhan, sehingga Lail
mulai hari itu tinggal dipanti asuhan. Sedangkan
Esok diadopsi oleh walikota. Dikarenakan hal tersebut, Lail dan Esok terpisah
dan hidup masing-masing. Dipanti asuhan, Lail bertemu dengan Maryam dan ialah
yang menemani Lail tanpa sosok Esok.
Telah
banyak kenangan yang telah dilalui Lail, tentang persahabatan, tentang
perpisahan, tentang kesedihan, tentang melupakan, dan tentang hujan. Kondisi
bumi semakin parah, awan menghilang dan hujan tidak lagi turun. Hingga semua
ini membuat Lail bingung dan merasa sesak, dan membawanya untuk melakukan
penghilangan ingatan yang dapat menghapus sebagaian tentang hujan dan tentang
Esok.
Keunggulan
Novel
Penulis
dapat membawakan cerita dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami,
sehingga saat membaca tidak ada bagian yang tidak saya mengerti. Oleh karena
ceritanya yang unik dengan latar waktu dimana teknologi telah berkembang pesat,
saya sangat menikmati ceritanya dan selalu ingin tahu bagaimana akhir dari
cerita tersebut.
Kelemahan
Novel
Penulis
kurang menjelaskan secara rinci bagaimana perawakan fisik dari setiap tokohnya
sehingga tidak dapat langsung dibayangkan bagaimana oenampilan tokoh tersebut.



Komentar
Posting Komentar